Kamis, 21 Maret 2013

Sejarah IPtek dalam Islam


Pada zaman awal perkembangan islam, sebenarnya kaum muslim  tidak bermaksud mengutip pemikiran filsafat dari pihak manapun juga . Mereka tidak menaruh perhatian pada soal tersebut , bahkan sama sekali tidak berniat mengutip ilmu apapun juga dan tidak pernah memikirkannya. Kalau di kemudian hari ada sebagian dari ilmu-ilmu tersebut merembes kedalam pemikiran orang Arab , itu semata-mata karena keharusan yang tak dapat di hindari karena semakin eratnya hubungan mereka dengan bangsa-bangsa lain di sekitar negerinya. Hubungan seperti itu memang sudah terjadi sejak zaman jahiliyyah , tetapi     masih terbatas dalam ruang lingkup yang amat sempit. Misalnya, Al-Harits bin kaldah Ats-tsaqafi,belajar ilmu kedokteran pada suatu perguruan di jundisbur, Persia dan terkenal sebagi seorang dokter Arab sebuah riwayat yang berasal dari Saad bin Abi waqqash mengatakan, ketika ia menderita sakit, Rosulullah SAW datanglah menjenguknya. Saat itu beliau menyarankan “datanglah kepada al-Harits bin kaldah Ats-tsaqafi, I mengetahui soal kedokteran”.

Akan tetapi ilmu pengetahuan yang di dapat , Al-Harits bin kaldah Ats-tsaqafi belum di anggap cukup. Karena  ia belum menguasai semua pokok dan cabang ilmu kedokteran secara ilmiah. Untuk itu, memang di perlukan penguasaan bahasa Suryani sebagai alat untuk dapat mempelajari berbagai buku kedokteran yang telah di terjemahkan ke dalam bahasa tersebut dan tersebar di jundisabur. Ilmu pengetahuan di bidang itu umumnya di kuasai oleh orang-orang suryani sendiri.

Mengenai bagaimana proses perpindahan ilmu kedokteran ke Jundisabur dan mengapa buku-buku di terjemanhkan dari bahasa yunani ke dalam bahasa suryani, akan saya ketengahkan kisahnya. Kisah kuno yang menurut sejarah merupakan kesinambungn dari zaman Plato dan Aristoteles, dua orang filosof yunani : yang satu perhatian besar pada masalah alam dan kedokterandan yang satu menaruh perhatian pada problema matematika. Keduanya juga mempunyai perguruan filsafat masing-masing . Pada abad ke-3 SM. Hippocrates juga telah mendirikan sebuah  perguruan ilmu kedokteran. Kemudian setelah kota iskandariyah di bangun, Kota itu menjadi tempat peradaban yunani yang lebih banyak bersifat ilmiah dari pada bersifat filosofis. Dari perguruan tersebut ,lalu sejumlah ahli pikir besar seperti Euclide, galenus, Archimedes,  Ptolomeus dan lain-lain, Yang telah berhasil meletakan dasar-dasar ilmu pengtahuan seperti ilmu geometri ilmu falak (astonomi), dan ilmu kedokteran. Hingga  abad ke-6 M kota iskandariyah tetap menjadi mercusuar ilmu pengetahun. Kemudian muncul pula di kota itu para ahli pikir genarasi kedua yang mengatur, menyusun, dan mempelajari buku-buku peninggalan para hali pikir generasi yang pertama untuk bahan pengajaran. Dari ahli pikir generasi kedua Orang-orang Arab menerjemahkan berbagai cabang ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan dan filsafat yang berkembang di iskndariyah hinggga abad ke-6 M, lazim di sebut filsafat Iskandariyah. Sebagian besar yang di timba oleh orang-orang Arab pada masa itu bersal dari dua bidang ilmu tersebut. Filsafat  iskandariyah terpusat di kota iskandariayh saja, tetpi di sebabkan oleh berbagai faktor sejarah yang terjadi sejak abad ke-14 M, filsafat tersebut meluas ke arah Timur kemudian menjadi mantap di beberapa kota negeri Syam. Pada masa itu agama Nasrani telah berhasil sepenuhnya mengalahkan paganism Yunani dan Roamawi dan tersebar pula di mesir, Syam dan Jazirah Arabia. Kaum Nasrani Suryan banyak tertarik mempelajari fisafat Iskandariayah dan sebagian besar mereka menejermahkan ke dalam bahasa suryani.

 Memang benarlah, bahwa dunia lama tidak terpencil dan terpisah satu dengan yang lainnya. Sepanjang zaman, pemikiran manusia memang bersifat universal, dan kemajuannya pun berarti kemajuan manusia juga. Aliran-aliran pemikiran hindu dan Persia banyak mempenaruhi filsafat Iskandariah, sebagaimana filsafat Yunani dan Iskandariyah mempengaruhi pemikiran filsafat di Timur hingga memperoleh kemantapannya di kota Jundisabur di jantung Persia. Keadaan tersebut di sebabkan antara lain peran antara  Persia dan Romawi yang terjadi berulang-ulang sejak abad ke-5 SM sampai abad ke-3 M. Maharaja Romawi, valeerianus, memerintahkan anak leleakinya yang bernama Galianus memimpin balatentara untuk menyerang Persia. Bala tentara Romawi di kalahkan Persia di sebuah tempat bernama Roha. Dengan kemenangannya itu , bala tentara Persia banyak tersebar dibagian utara negeri Syam dan berhasil merampas Antakia. Panglima Persia yang bernama Sabur kemudian memindahkan para tawanan romawi ke sebuah tempat dekat Tustur , sebuah kota di Arabistan (Iran).  Tempat itu kemudian di beri nama Jundisabur yang bermakna Pemusatan pasukan sabur . para tawanan romawi di perlakukan sangat baik . Mereka bebas melakukan peribadatan dan bagi yang beragama Nasrani di buatkan gereja. Diantara para tawanan perang itu terdapat banyak insyinyur, arsitekur, dan dokter . sejak tahun 260 Masehi kota Jundisabur menjadi pusat kelahiran kembali ilmu filsafat dan kedokteran Yunani. Keadaan itu berkembang terutama setelah kaisar Justianus mengusir para filosif dari perguruan Athena. Kisra Persia menyambut gembira para filosof yang di usir itu di Jundisabur. Sejak itu sebagian besar filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani di terjemahkan kedalam bahasa Suryani dan sebagian kecil saja yang diterjemahkan ke dalam bahasa Persia. Konon Ibn Al-Muqaffa’ menerjemahkan semantika aristoteles dari bahasa Persia.

2.3.1 Masa Awal kedatangan Islam
Masa klasik adalah awal penyebaran ajaran Islam yang dilakukan oleh Rasulullah. Pada awal perkembangannya, Rasulullah berupaya agar umat manusia pada masa itu memahami ajaran-ajaran Islam. Al Quran adalah sumber utama dakwah saat itu. Adapun metode yang dipakai Rasulullah saat itu adalah dengan mengajarkan Islam di rumah Arqom maupun rumah Rasul sendiri. Materi yang diajarkan pada masa ini adalah berkisar pada masalah ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah. Kegiatan ini berlangsung hingga masa Khulafaurrasyidin.  Ilmu pengetahuan,pengetahuan,  pencarian, Penalaran dan kebebasan adalah hadiah yang sangat bernilai. Ia di bawa oleh Nabi Muhammad bagi siapa saja yang mau menerima dan menggunakannya. Eropa turut mandapat keuntungan dari  “Hadiah ” itu melaui interaksi para penganut islam yang tinggal di Spanyol, Italia Selatan dan Sisilia serta intraksi selama Perang  Salib pada abad pertengahan.  Orang-orang Eropa mempelajari ilmu pengetahuan, pencarian, penalaran dan kebebasan, Setelah memahaminya, kemudian mereka menggunakanya dalam kehidupan mereka.

Berdasarkan bukti historis yang tak dapat di bantah, ajaran Nabi memberi pengaruh terhadap pembangunan Eropa moderen. Beliau beserta ajarannya berperan dalam mengeluarkan masyarakat Eropa dari kegelapan menuju sesuatu yang dahulu mereka abaikan. Ironisnya, dahulu mereka  merasa senang dalam kegelapan.abad ini sering di sebut “dark ages”, otonomi dan kebebasan berpikir sangat di batasi otoritas institusi agama dengan mengatas namakan nilai ketuhahan. Karena itu rennaisans di eropa berbarengan dengan semangat menunggalkan agama institusioanal dan nilai ketuhanan serta memajukan semangat sains dan kemanusiaan (humanisme). Maka munculah Ilmuan Ateis (yang menolak tuhan ), Ilmuan Agnostis (yang tidak peduli denagn eksistensi tuhan) dan Ilmuan Deis (mengimani tuhan tetapi tidak memeluk suatu agama formal tertentu). Zaman rennaisans berarti zaman yang menekankan otonomi dan kedaulatan manusia dalam berpikir,  bereksplorasi, bereksperimen, serta mengembanganseni, sastra dan ilmu pengetahuan Eropa.

Sebelum renaisans ,bangsa eropa menjauhkan diri dari ilmu pengetahuan, menghukum orang-orang yang berilmu berbanggan dengan takhayul nenek moyang dan mengambil jalan kebodohan, tidak mengenal akal pikiran serta tidak mengenal kebebasan dalam berekspresidan memilih keyakinan. Para raja sangat berkuasa sedangakan masyarakat kelas bawahnya sangat menderita di bawah kaum bangsawan serta gereja. Nabi Muhammad  berhasil menghembuskan gairah pada ilmu pengetahuan ke dalam pikiran para sahabatnya. Beliau meletakan tonggak “prinsip Filsafat pertama dalam perbuatan positif” dan “membimbing ke proses peleburan aktual antara penalaran dan hukum”. Pendekatan terhadap ilmu pengetahuan dan sains ini membuka gerbang menuju sebuah dunia dengan cakrawala baru bagi manusia. Para pengikut nabi memperkenalkan masyarakat eropa pada unsure fundamental ajaran Nabi Muhammad SAW . Hal ini membawa mereka ke arah penemuan dan perkembangan ilmu pengetahuan di dunia muslim ---- antara antara abad ke -7 hingga ke -14 ---- Pada saat masyarakat Eropa hidup pada saat zaman kegelapan .  Walaupun Eropa belum sepenuhnya mengetahui kebaiakan ajaran tersebut di antara mereka ada yang mengakui Sumbangan Nabi Muhammad SAW dalam perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa bahkan sampai sekarang.

Robert brifaultadalah salah seorang yang secar aterus terang menagkui kebanearan itu .”Walaupun  tidak aspek terlacak yang menunjukan bahawa masyarakat eropaberkembang dengan pengarus dari kebudayaaan islam, pengaruh itu sangat jelas dan sanngat signifikan sebagai permulaan kekuatan   yang menjadi pembeda terpenting dunia. Pada masa empat khalifah ini, ilmu pengetahuan dalam konteks kajian agama sudah lebih luas lagi karena wilayah kekuasaan Islam juga bertambah luas dan permasalahan yang dihadapi juga semakin kompleks. Muncullah pengkajian ajaran agama yang menggunakan pertimbangan akal (ijtihad) baik dalam bentuk Ijma' maupun Qiyas. Tata pemerintahan, birokrasi, administrasi, dan hukum pada masa khulafaurrasyidin merupakan bentuk perkembangan ilmu pengetahuan pada masa tersebut. Selain itu, kondisi pada masa tersebut menyebabkan munculnya berbagai macam aliran dalam masalah aqidah, yakni : aliran Khawarij, Murjiah, Jabariyah, dan Qadariyah. Keempat aliran ini merupakan embrio keilmuan dan filsafat yang melahirkan kajian rasional terhadap persoalan-persoalan akidah.



2.3.2 Masa Pertengahan
Masa ini berlangsung setelah khulafaurrasyidin, tepatnya pada masa Daulah Umayyah sekitar abad ke 7 dan Daulah Abbasiyah pada abad ke 8. Khalifah Bani Umayyah yang terkenal dalam mempelopori gerakan pengembangan ilmu pengetahuan adalah Umar bin Abdul Aziz. Dialah yang mempelopori kodifikasi hadits-hadits Nabi. Pada masa ini muncul tokoh Al Tabari Ibn Hazm yang menjadi pelopor berkembangnya bidang keilmuan pada masanya. Kejayaan Islam pada masa pertengahan mencapai puncaknya saat Daulah Abbasiyah berkuasa.

Ilmu pengetahuan pertama yang di terjemahkan oleh orang Arab pada zaman Islam ialah ilmu kedokteran, yaitu pada zaman khalifah bani Umayyah. Penerjemahnya bernama Warwan bin Al Ahkam (64-65 H ). Ketika itu seorang dokter bernama Masarjarwaih menerjemahkan ke dalam bahasa Arab buku   kedokteran yang di tulis oleh pendeta Ahran bin Ayun dalam bahasa Suryani. Buku tersebut masih tersimpan baik di perpustakaan sampai zaman khalifah bani Umayyah yang bernama Umar Abdul Aziz (tahun 99-101 H ) . Ia kemudian shalat istikharah karena ingin mengeluarkan buku tersebut  untuk di mamfaatkan oleh kaum muslimin. Pendeta yang bernama Ahran itu adalah orang yang misterius ada yang mengatakan ia berasal dari Iskandariyah dan hidup pada abad ke-5 M. Ia menulis buku mengenai tiga puluh problema ilmu kedokteran, yang kemudian di terjemahkan ke dalam bahasa Suryani dan bahasa Arab.

Riwayat lain mengatakan bahwa orang pertama yang menerjemahkan pada zaman Islam ialah Khalid bi Yazid Al Umawi (58 H), yang di perintahkan menerjemahkan berbagai buku ilmu kimia ke dalam bahasa Arab , atau ilmu sun’ah, menurut istilah yang terkenal di kalangan mereka pada masa itu. Riwayat itu mengemukakan juga bahwa Khalid mempelajari ilmu tersebut dari seorang bernama Marimus atau Marianus yang belajar ilmu tersebut dari Stepanus pada zaman Kaisar Hiraclus (Romawi), tidak lama sebelum islam melakukan gerakan perluasan wilayah kekuasaannya secara langsung. Pada masa itu, ilmu kimia mempunyai dua tujuan : pertama, mengubah logam-logam yang tidak berharga menjadi emas. Kedua, mempergunakan bahan-bahan kimia khusus untuk berbagai bidang pekerjaan tertentu , seperti : penyamakan kulit, penyepuhan logam , pembuatan berbagai jenis senjata dan sebagainya yang banyak di lakukan orang kota-kota yang telah maju. Karena itu, tidak mengherankan kalau setelah berhasil melancarkan gerakan perluasan wialyah Islam , orang Arab menemukan berbagai macam pertukangan di negeri-negeri Persia , Syam dan Mesir. Juga tidak aneh kalau para khalifah yang bersangkutan menggalakan para ahli pertukangan dan para ilmmuan agar melakukan penelitian secara teoretis.

Sebagaimana yang telah kita ketahui dari uraian terdahulu , kaum muslimin mengenal banyak macam ilmu pengetahuan pada zaman pertengahan kekuasaan raja-raja bani Umayyah . Pada akhir abad pertama Hijriyah, khalifah Umar bin Abdul Azis menginginkan supaya semua buku ilmu pengetahuan yang bermamfaat bagi kesejahteraan rakyat seperti: Kedokteran, Kimia ,dan geometri di keluarkan dari perpustakaan agar di pelajari kaum Musllimin . Sejak itu mulailah berbagai cabang ilmu pengetahuan asing sedkit demi sedikit di serap oleh dunia Islam hingga daulah Abbasiyyah, yang mengadakan gerakan penerjemahan paling besar dalam sejarah , sampai-sampai  di kenal dengan sebutan zaman penerjemahan.

Zaman penerjemahan alam arti yang sebenarnya baru di mulai pada zaman daulat Abbasiyyah. Khalifah abbasiyyah yang bernama Al-Manshur membangun kota bagdad yang kemudian menjadi mercusuar di timur dan jantung dunia Islam dalam kurun waktu yang amat panjang. Dari Jundisabur , Al-Manshur mendatangkan Jirjis bin Bakhthaisyu (148 H). Kemudian mengangkatnya sebagai kepala team dokter istananya dampai ia (Al-Mashur) wafat pada tahun 150 H. Anak lelaki Al-Mashur yang bernama Al Mahdi  tetap memperkerjakan lelaki Bakhtaisyu di istananya hingga zaman AL-Hadi danAr-Rasyid. Anak lelaki Bakhtaisyu yang bernama Gabriel juga menjadi seorang dokter dan bekerja di istana ja’far Al-baramki dan tetap dalm pekerjaan itu hingga zaman khalifah Al-Ma’mun. Jafar Al baramaki meninggal dnia pada tahun 213 H.

Pada tahun 215 H, Khalifah al Ma’mun mendirikan sebuah akademi penerjemahan dengan nama Baitul Hikmah . Untuk itu, ia mengangkat beberapa orangkepala (bagian) di bantu oleh sejumlah penulis dan redaktur yang mengenal bahasa Suryani dan Yunani, di samping bahasa Arab yang telah mereka kuasai dengn baik. Diantara orang-orang yang terkenal pernah mengepalai baitul-hikmah ialah Hunain bin Ishaq. Ia menguasai bahasa Yunani dengan baik sekali. Sebagian riwayat mengatakan bahwa hafal syair-syair Homerus  dan sering mendendangkannya di jalan-jaln kota Baghdad. Khalifah al-mutawakil mengangkatnya sebagai penerjermah dan kepadanya di perbantukan beberapa orang ahli seperti : Stephanus abu basil dan lain-lain. Mereka menerjemahkan kemudian terjemahan mereka di teliti lagi kebenarannya oleh Hunain. Selain itu , Hunain menerjemahkan pula berbagai buku ilmu kedokteran yang ditulis oleh Galenus, Di samping mengarang beberapa makalah tentang ilmu kedokteran. Ia juga telah menerjemahkan buku-buku Aristoteles perihal ilmu semantika (logika), filsafat dan ilmu jiwa. System penerjemahannya lebih mengutamakan makna dan pengertian bukan harfiah. Dengan demikian, Hunain Ibju Ishaq menjadi bertambah mahir dalm masalah penerjemahan.

Gerakan penerjemahan berlangsung terus selama abad ake-3 H. Beberapa jenis buku di terjemahkan lebih dari satu kali. Jika terjamahan pertama di pandang kurang baik bersifat harfiah dan kurang mengutamakan makna , maka buku yang telah di terjemahkan di ulang kembali penerjemahannya . Bahkan ada kalanya sampai tiga kali di terjemahkan. Dengan cara itu, maka sebagian besar pusaka pemikiran asing selesai di terjemahkan ke dalam bahasa Arab.
 Pada zaman Daulah Abbasiyah, di katakan sebagai masa menjamurnyakesastraan dan ilmu pengetahuan serta ilmu-ilmu purbakala yang disalin ke dalam bahasa Arab. Lahirlah pada masa itu sekian banyak penyair, pujangga, ahli bahasa, ahli sejarah, ahli hukum, ahli tafsir, ahli hadits, ahli filsafat, thib, ahli bangunan dan sebagainya. Dinasti Abbasiyiah membawa Islam ke puncak kejayaan Saat itu, dua pertiga bagian dunia dikuasai oleh kekhalifahan Islam, Tradisi keilmuan berkembang pesat.Kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuanlah yang mengundang terciptanya beberapa karya ilmiah seperti terlihat pada abad ke 8 M. yaitu gerakan penerjemahan buku peninggalan kebudayaan Yunani dan Persia.
Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu hal yang sangat mulia dan berharga. Para khalifah dan para pembesar lainnya mengantisipasi kemungkinan seluas-luasnya untuk kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada umumnya khalifah adalah para ulama yang mencintai ilmu, menghormati sarjana dan memuliakan pujangga. Kebebasan berpikir sebagai hak asasi manusia diakui sepenuhnya. Pada waktu itu akal dan pikiran dibebaskan dari belenggu taklid, yang menyebabkan orang sangat leluasa mengeluarkan pendapat dalam segala bidang, termasuk bidang aqidah, falsafah, ibadah dan sebagainya.
 Kecanggihan teknologi masa ini juga terlihat dari peninggalan-peninggalan sejarahnya. Seperti arsitektur mesjid Agung Cordoba Blue Mosque di Konstantinopel. atau menara spiral di Samara yang dibangun oleh khalifah al-Mutawakkil, Istana al-Hamra (al-Hamra Qasr) yang dibangun di Seville, Andalusia pada tahun 913 M. Sebuah Istana terindah yang dibangun di atas bukit yang menghadap ke kota Granada. Saat itu “kata Lutfi” banyak lahir tokoh dunia yang kitabnya menjadi referensi ilmu pengetahuan modern. Salah satunya adalah bapak kedokteran Ibnu Sina atau yang dikenal saat ini di Barat dengan nama Avicenna. Pada saat itu tentara Islam juga berhasil membuat senjata bernama ‘manzanik’, sejenis ketepel besar pelontar batu atau api. Ini membuktikan bahwa Islam mampu mengadopsi teknologi dari luar. Pada abad ke-14, tentara Salib akhirnya terusir dari Timur Tengah dan membangkitkan kebanggaan bagi masyarakat Arab. Peradaban Islam memang peradaban emas yang mencerahkan dunia. Itu sebabnya menurut Montgomery, tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi dinamonya, Barat bukanlah apa-apa. Wajar jika Barat berhutang budi pada Islam.

2.3.3 Masa kemunduran Islam
Gustave Lebon mengatakan bahwa terjemahan buku-buku bangsa Arab, terutama buku-buku keilmuan hampir menjadi satu-satunya sumber-sumber bagi pengajaran di perguruan-perguruan tinggi Eropa selama lima atau enam abad. Tidak hanya itu, Lebon juga mengatakan bahwa hanya buku-buku bangsa Arab-Persia lah yang dijadikan sandaran oleh para ilmuwan Barat seperti Roger Bacon, Leonardo da Vinci, Arnold de Philipi, Raymond Lull, san Thomas, Albertus Magnus dan Alfonso X dari Castella. Belum lagi ribuan buku yang berhasil memberikan pencerahan kepada dunia. Itu sebabnya, jangan heran kalau perpustakaan umum banyak dibangun di masa kejayaan Islam. Perpustakaan al-Ahkam di Andalusia misalnya, merupakan perpustakaan yang sangat besar dan luas. Buku yang ada di situ mencapai 400 ribu buah. Uniknya, perpustakaan ini sudah memiliki katalog. Sehingga memudahkan pencarian buku. Perpustakaan umum Tripoli di daerah Syam, memiliki sekitar tiga juta judul buku, termasuk 50.000 eksemplar al-Quran dan tafsirnya. Dan masih banyak lagi perpustakaan lainnya. Tapi naas, semuanya dihancurkan Pasukan Salib Eropa dan Pasukan Tartar ketika mereka menyerang Islam.
            Pada masa kemunduran iptek di dunia islam, kaum Muslimin tidak lagi mempunyai semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu. Bahkan sebagian mereka menjauhkan diri dari ilmu pengetahuan, karena dianggap sekular dan produk Barat. Menurut Prof DR. Abdus Salam, seorang ilmuwan Muslim asal Pakistan, kemunduran ilmu pengetahuan dan teknologi di Dunia Islam lebih banyak disebabkan oleh faktor-faktor internal umat Islam. Misalnya, terjadinya pemisahan dalam mempelajari ayat-ayat Qauliyah dan ayat-ayat Kauniyah, kurang terjalinnya kerjasama antara ilmuwan Muslim dan penguasa setempat untuk menjaga tradisi keilmuan di Dunia Islam, dan sikap mengisolasi diri terhadap perkembangan iptek dunia luar. 
 Di zaman dewasa ini perkembangan iptek di Dunia Islam amat memprihatinkan. Berbagai penemuan ilmiah mutakhir seperti nuklir, cloning, dan kosmologi, meskipun tersirat secara simbolik dalam Al-Qur’an, tetapi yang menemukannya adalah orang-orang non-Muslim. Demikian pula penemuan ilmiah di bidang lain. Kaum Muslimin baru menyadari bahwa prinsip-prinsip ilmu tersebut telah diungkapkan dalam Al-Qur’an lima belas abad yang lalu, setelah ilmu tersebut ditemukan oleh ilmuwan-ilmuwan non-Muslim. Suatu fakta menunjukkan bahwa, dewasa ini kaum Muslimin senantiasa tertinggal dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan datang terlambat menafsirkan ilmu tersebut dari kebenaran Al-Qur’an. Suramnya kondisi keilmuan di Dunia Islam diperparah oleh fenomena rendahnya persentase umat Islam yang menuntut ilmu dari SD sampai perguruan tinggi, dan adanya ketidakseimbangan antara ilmuwan Muslim dengan besarnya populasi penduduk Muslim di dunia yang hampir mencapai 1,5 miliar. Sebagai contoh, Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim, saat ini hanya 11% siswa lulusan SMA yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Sementara itu, di Korea Selatan terdapat 70% lulusan SMA yang melanjutkan ke PT. Sebagai ilustrasi pula jumlah ilmuwan dan insinyur per satu juta orang di negara-negara non-Muslim seperti Cina 71.297, Jepang 59.611, Jerman 42.557, Amerika Serikat 14.757 dan Korea Selatan 2.426. Sedangkan Indonesia yang merupakan salah satu negeri Islam terbesar hanya sekitar 1.280. Dari jumlah ilmuwan tersebut yang terlibat dalam penelitian dan pengembangan adalah Indonesia sebesar 3,2%, Korea Selatan 46,5%, AS 22,1%, Jepang 8,1% dan Jerman 5,5%. Data tersebut mengindikasikan bahwa Indonesia yang mayoritas berpenduduk Muslim merupakan negara yang memiliki ilmuwan dan insinyur paling sedikit.

 Fenomena kemunduran iptek di Dunia Islam menyebabkan banyak implikasi di berbagai bidang. Misalnya Dunia Islam masih banyak yang masuk dalam daftar adopter country, yaitu negara yang masih dalam taraf menggunakan teknologi yang diadopsi dari bangsa lain. Menurut mantan Menristek Hatta Rajasa beberapa waktu lalu, Indonesia bisa melorot menjadi isolated country, yakni, negara yang terkungkung karena tidak mampu menghasilkan produk dengan teknologi sendiri karena bisanya hanya menjadi pengguna teknologi. Akibatnya terjadilah di Dunia Islam adopsi teknologi impor. Adopsi teknologi impor ini telah menyentuh berbagai bidang kehidupan, seperti transportasi, pangan, kedokteran, komunikasi, bioteknologi, dan lain-lain. Bahkan sistem ekonomi, perbankan, pendidikan, dan pemerintahan pun merupakan sistem yang diadopsi dari negara lain. Akibat dominasi teknologi impor ini, di Dunia Islam muncui umat Islam yang kebarat-baratan. Sayangnya, yang ditiru dari peradaban Barat hanya pada tataran surface saja seperti lifestyle, mode, perilaku, dan lain-lain yang sering bertentangan dengan nilai-nilai moral agama. Adapun peradaban Barat yang baik seperti kesungguhan dalam bekerja, tepat waktu, disiplin, penghargaan terhadap karya orang lain, administrasi dan manajemen yang baik, motivasi belajar, penelitian, dan lain-lain tidak pernah dicontoh. 

 Dampak lain dari kemunduran Dunia Islam di bidang iptek ialah tumbuh suburnya kemiskinan, rendahnya mutu pendidikan, minimnya pendapatan perkapita, dan merajalelanya pengangguran. Di samping itu banyak negara-negara Islam yang terjerat hutang luar negeri. Indonesia  misalnya, sekitar 60% hidup di bawah garis kemiskinan dan 10-20% penduduknya hidup dalam kemiskinan absolut. Sementara itu jumlah pengangguran di Indonesia hampir mencapai 40 juta orang. Negara-negara Islam yang lain, meski tidak separah Indonesia, mereka menghadapi problem yang tidak jauh berbeda, terutama dalam masalah hutang luar negeri. 
Agendanya sekarang, umat Islam harus melakukan upaya-upaya yang dapat mendukung kembali kemajuan di bidang sains dan teknologi. Karena dalam Al-Qur’an sendiri terdapat 750 ayat-ayat kauniyah atau hampir seperdelapan kandungan Al-Qur’an yang mengingatkan kaum Muslimin agar senantiasa mempelajari alam semesta dan terus berfikir dengan menggunakan penalaran yang sebaik-baiknya. Dalam Al-Qur’an juga terdapat 32 surah yang membahas fenomena alam dan materi. Selain itu kata ‘aql dengan berbagai bentuknya disebutkan sebanyak 49 kali. Demikian pula kata ‘ilmu dalam berbagai bentuknya disebutkan sebanyak 854 kali. Kata ulul albab dan kualifikasinya disebutkan dalam beberapa surah antara lain al-Baqarah: 179,197,269, Ali-Imran: 7,190,191, ar-Ra’ad: 19, Shad: 29, 43, Az-Zumar: 18 &21. Selain itu, Al-Qur’an juga menjelaskan keutamaan dan derajat orang yang berilmu, seperti dalam Qs. Al-Fathir: 28, An-Nisa: 162, dan al-Mujadilah: 11. Jika umat Islam menginginkan dirinya sebagai unggul dalam percaturan global, maka mau tidak mau umat Islam harus mampu mengejar ketertinggalannya di bidang iptek. Di samping itu, umat Islam harus mempunyai kesadaran ruhiyah yang tinggi serta motivasi yang kuat dalam mengkaji Al-Qur’an.

Jatuh itu memang menyakitkan. Apalagi ketika kita udah berada jauh di puncak kesuksesan. Setelah berhasil membangun kejayaan selama 14 abad lebih, akhirnya peradaban Islam jatuh tersungkur. Inilah kisah tragis yang dialami peradaban Islam. Bukan tanpa sebab tentunya. Serangan pemikiran dan militer dari Barat bertubi-tubi menguncang Islam. Akibatnya, kaum muslimin mulai goyah. Puncaknya, adalah tergusurnya Khilafah Islamiyah di Turki dari pentas perpolitikan dunia. Saat itu, Inggris menetapkan syarat bagi Turki, bahwa Inggris tak akan menarik dirinya dari bumi Turki, kecuali setelah Turki menjalankan syarat-syarat berikut: Pertama, Turki harus menghancurkan Khilafah Islamiyah, mengusir Khalifah dari Turki, dan menyita harta bendanya. Kedua, Turki harus berjanji untuk menumpas setiap gerakan yang akan mendukung Khilafah. Ketiga, Turki harus memutuskan hubungannya dengan Islam. Keempat, Turki harus memilih konstitusi sekuler, sebagai pengganti dari konstitusi yang bersumber dari hukum-hukum Islam. Mustafa Kamal Ataturk kemudian menjalankan syarat-syarat tersebut, dan negara-negara penjajah pun akhirnya menarik diri dari wilayah Turki (Jalal al-Alam dalam kitabnya Dammirul Islam Wa Abiiduu Ahlahu, hlm. 48) Cerzon (Menlu Inggris saat itu) menyampaikan pidato di depan parlemen Inggris, “Sesungguhnya kita telah menghancurkan Turki, sehingga Turki tidak akan dapat bangun lagi setelah itu… Sebab kita telah menghancurkan kekuatannya yang terwujud dalam dua hal, yaitu Islam dan Khilafah.” Jadi terakhir kaum muslimin hidup dalam naungan Islam adalah di tahun 1924, tepatnya tanggal 3 Maret tatkala Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki alias Konstantinopel diruntuhkan oleh kaki tangan Inggris keturunan Yahudi, Musthafa Kemal Attaturk. Nah, dialah yang mengeluarkan perintah untuk mengusir Khalifah Abdul Majid bin Abdul Aziz, Khalifah (pemimpin) terakhir kaum muslimin ke Swiss, dengan cuma berbekal koper pakaian dan secuil uang. Sebelumnya Kemal mengumumkan bahwa Majelis Nasional Turki telah menyetujui penghapusan Khilafah. Sejak saat itulah sampai sekarang kita nggak punya lagi pemerintahan Islam.

Akibatnya, umat Islam terkotak-kotak di berbagai negeri berdasarkan letak geografis yang beraneka ragam, yang sebagian besarnya berada di bawah kekuasaan musuh yang kafir: Inggris, Perancis, Italia, Belanda, dan Rusia. Di setiap negeri tersebut, kaum kafir telah mengangkat penguasa yang bersedia tunduk kepada mereka dari kalangan penduduk pribumi. Para penguasa ini adalah orang-orang yang mentaati perintah kaum kafir tersebut, dan mampu menjaga stabilitas negerinya. Kaum kafir segera mengganti undang-undang dan peraturan Islam yang diterapkan di tengah-tengah rakyat dengan undang-undang dan peraturan kafir milik mereka. Kaum kafir segera mengubah kurikulum pendidikan untuk mencetak generasi-generasi baru yang mempercayai persepsi kehidupan menurut Barat, serta memusuhi akidah dan syariat Islam. Khilafah Islamiyah dihancurkan secara total, dan aktivitas untuk mengembalikan serta mendakwahkannya dianggap sebagai tindakan kriminal yang dapat dijatuhi sanksi oleh undang-undang.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar